TRANSLATE : ArabicFrenchGermanSpainRussianChinese SimplifiedJapaneseKoreanEnglishItalianDutchPortuguese

Siapa Endang Rahayu Sedyaningsih?


Menteri Kesehatan, Endang Rahayu Sedyaningsih menjadi sosok yang sering dibicarakan di berbagai media saat ini. Siapakah dia sebenarnya dan apa hubungannya dengan NAMRU 2?

Nama wanita ini tiba-tiba muncul ke publik setelah ia dipastikan mejadi Menteri Kesehatan. Padahal awalnya tak ada yang mengenal pejabat eselon II Depkes itu. Bahkan Nila Moeloek, istri mantan Menkes Farid Anfasa Moeleok, yang batal jadi Menkes karena dikatakan tidak lolos psikotes mengaku tidak mengenalnya. Meski demikian realita bicara lain. Rabu sore (21/10) ia dipanggil ke Cikeas untuk mengikuti audisi calon Menkes. Dan SBY pun pada malam harinya mengumumkan namanya menjadi orang nomor satu di Depkes.

Menteri kesehatan yang ditunjuk oleh Presiden SBY untuk menggantikan Siti Fadilah Supari ini nama lengkapnya adalah Dr. dr. Endang Rahayu Sedianingsih, MPH. Ia lahir di Jakarta pada tanggal 3 Februari 1955.

Pendidikan dokternya di selesaikan di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Tahun 1979. Gelar masternya (Master of Public Health) ia peroleh di Harvard University, Boston, Amerika Serikat pada tahun tahun 1992 pada jurusan kesehatan masyarakat. Gelar Doktor Kesehatan Masyarakat ia sabet di universitas yang sama pada tahun 1997.

Menurut situs resmi Departemen Kesehatan, www.depkes.go.id, istri dari dr.MJN Mamahit, Sp.OG ini memulai karirnya di Depkes sejak tahun 1990. Tahun 2004 sebagai pejabat fungsional dengan pangkat Peneliti Madya. Pada 26 Januari 2007 dipercaya oleh Menkes Siti Fadilah Supari sebagai Kepala Puslitbang Biomedis dan Farmasi. Pada 24 Juli 2008 sebagai peneliti Madya dan sejak 1 Agustus 2008 sebagai Peneliti Utama pada Puslitbang Biro Medis dan Farmasi.

Ibu dari 3 orang putra dan putri, Arinanda Wailan Mamahit, Awandha Raspati Mamahit, dan Rayinda Raumanen Mamahit yang pernah bekerja di Puskesmas di Nusa Tenggara Timur selama 2,5 tahun ini pernah dua kali memperoleh penghargaan yakni sebagai Penulis Artikel terbaik ke-2 Badan Litbangkes tahun 2000, Presentasi Poster Terbaik ke-3 pada Conferensi Asia Pasifik ke-3 tentang Perjalanan Kesehatan.

Karya-karya Endang R. Sedyaningsih di antaranya adalah Pengembangan Jaringan Virologi dan Epidemiologi Influenza di Indonesia (2007), Karakteristik kasus-kasus flu burung di Indonesia (Juli 2005-Mei 2006), dan Kajian penelitian sosial dan perilaku yang berkaitan dengan Infeksi Menular Seksual, HIV/AIDS di Indonesia (1997-2003).

Terkait hubungannya dengan laboratorium Namru 2 (Naval Medical Research Unit/NAMRU-2), wanita yang pernah menjadi staf litbang Depkes ini, dituding oleh mantan Menkes sebelumnya, Siti Fadilah Supari, sebagai orang orang yang mengirimkan spesimen virus influenza A (H5N1) ke laboratorium NAMRU-2 saat Departemen Kesehatan yang saat itu dia pimpin memutuskan untuk menghentikan pengiriman spesimen guna memprotes mekanisme pertukaran virus WHO yang tidak adil.

Dia memiliki akses untuk keluar masuk dengan bebas di Namru. Aktivitasnya ini kemudian diketahui oleh Siti. Karena ketahuan itulah kemudian Endang dimutasi jabatannya dan diminta untuk minta maaf kepada Siti Fadilah.

Mengenai kedekatannya dengan orang-orang di laboratorium riset Angkatan Laut Amerika ini, Endang mengatakan sebagai peneliti dia sering berhubungan dengan lembaga-lembaga riset di dalam dan luar negeri termasuk Namru 2 dan mengenal orang-orang yang bekerja di sana.

"Jadi saya dekat dengan Namru, saya dekat dengan Belanda, saya dekat dengan NIID (National Institute of Infectious Diseases) di Jepang, saya dekat dengan China, ada penelitian malaria. Sebagai peneliti kita dekat dan bekerja sama. Jadi tidak ada saya dekat dengan ini, tidak dekat dengan itu. Itu semua berbasis profesional kerjasama," tegas Menkes Endang Rahayu ketika ditanya perihal kedekatannya dengan Namru, Kamis (22/10).

Karenanya wajar jika banyak kalangan yang keberatan dengan penunjukan dirinya. Bahkan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Din Syamsuddin juga mengaku kecewa ketika mengetahui orang yang diangkat SBY sebagai Menkes, yakni Endang, ternyata dekat dengan lembaga penelitian Amerika Serikat dan lembaga-lembaga penelitian asing lainnya.

Direktur An Nashr Institute, Munarman, SH yang pernah mengangkat soal Namru 2 ini ke publik mengatakan bahwa dengan penunjukkan Endang membuktikan Indonesia tunduk pada Amerika. Anggota Presidium MER-C, dr. Joserizal Jurnalis, Sp.OT malah menyatakan Endang sebagai orang yang tak loyal pada bangsa dan negara. ”Buktinya ia mengirimkan virus ke luar negeri”, ungkap Jose dalam konferensi pers di kantor MER-C, Jakarta, Jum’at (23/10).

ukan dakwah yang butuh kita, tapi kita yang butuh dakwah...


Sesungguhnya perjalanan (merantau) umatku adalah jihad di jalan Allah Azza Wa Jalla" (H.R Abu Daud)

Sungguh indah bila makna hadist ini terealisir dalam diri kita. Ketika kita menjadikan jihad sebagai hobi (kesukaan) yang ditekuni. Ketika jihad tidak lagi dipandang sebagai beban dan kesulitan, tetapi sebagai kebutuhan dan kesenangan..

Jihad memiliki banyak lahan.Salah satunya adalah dakwah.Bahkan dakwah sebagai lahan jihad yang permanent, karena bisa dilakukan kapan dan dimana saja.

Dakwah sebagai lahan jihad bukanlah sekedar menyampaikan kata-kata kebaikan, tapi merupakan kerja sistematis yang direncanakan dengan matang agar hasil yang diperoleh nyata...dengan merancang segala agenda dakwah sambil tidak lupa untuk berbuat bagi kemajuan dakwah di masa kini dan masa depan.

Bukankah Allah memerintahkan kita untuk selalu memiliki agenda di masa depan?

"Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diqi memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan"
(QS Al Hasyr;18)

Untuk dapat melaksanakan semua agenda ini, diperlukan suatu jama'ah yang saling beramal jama'i dalam suatu barisan yang teratur dan juga kokoh. Karenanya dakwah ini membutuhkan punggung-punggung yang kuat, tangan-tangan yang kekar, kaki-kaki yang lebar dan hati2 yang menghunjam akarnya, yang tetap teguh walau diterpa oleh angin dan badai. Dakwah ini butuh pengorbanan yang besar yang tidak bisa dipikul oleh segelintir orang dan orang2 yang manja.

Sebagaimana Musa membutuhkan Daud dalam dakwahnya, ataupun sebagaimana Rasulullah menginginkan Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Umar bin Khatthab untuk menguatkan kiprahnya di dakwah syiar islam

"Dakwah ini tidak mengenal sikap ganda. Ia hanya mengenal satu sikap TOTALITAS. Siapa yang bersedia untuk itu, maka ia harus hidup bersama dakwah dan dakwahpun harus melebur dalam dirinya. Sebaliknya, barang siapa yang lemah dalam memikul beban ini,ia akan terhalang dari pahala besar mujahid dan tertinggal bersama-sama orang-orang yang duduk. Lalu Allah akan mengganti mereka dengan generasi yang lain yang lebih baik dan lebih sanggup memikul beban dakwah ini"

Sepenggal pesan dari Imam Syahid Hasan Al-Bana ini seolah menyentil kita untuk total dalam berkontribusi dalam memajukan dakwah...
karena sesungguhnya bukan dakwah yang butuh kita, tetapi kitalah yang membutuhkan dakwah...

Ironi Uang Kertas Dalam Sejarah…

09

Mungkin tidak sampai satu generasi kedepan, anak cucu kita akan mentertawakan uang kertas yang kita pakai saat ini. Inilah yang terjadi dengan uang-uang kertas di dunia dari waktu ke waktu, maka ini pula yang kemungkinan besar akan terjadi dengan uang kertas yang ada pada zaman ini.

Ambil contoh dari beberapa ilustrasi di tulisan ini; ketika Islam sudah sangat maju dengan aturan main system keuangan berbasis Emas (Dinar) dan Perak (Dirham) yang ternyata valid sejak 14 abad lalu dan up-to-date sampai sekarang; dari generasi ke generasi manusia yang tidak mau belajar dari sejarah tidak bosan-bosannya bereksperimen dengan uang kertasnya. Berikut beberapa contoh diantaranya.

Pada tahun 1777 ketika Amerika masih merupakan koloni Inggris dan berusaha mencetak uangnya sendiri, maka uang kertas yang dihasilkan adalah seperti gambar disamping. Saking nggak berharganya dan mudahnya di palsu, maka satu-satunya cara untuk menjaga nilainya dari pemalsuan hanya bisa dilakukan dengan menulis ancaman di uang tersebut – bahwa pemalsu akan dikukum mati.

Ketika Perang Dunia II usai ada salah satu Negara di Eropa - Hungaria yang betul-betul kebingunan menentukan nilai uangnya, maka dicetaklah uang dengan nilai Seratus Juta Milyar Pengo (Pengo = mata uang negeri itu). Di gambar di bawah Anda bisa lihat uang tersebut, tetapi karena saking banyaknya angka nol yang harus ditulis – yang akan menyulitkan penggunanya – maka angkanya di eja SZAZMILLIO B.-PENGO – artinya ya itu tadi Seratus Juta Milyar Pengo; bingung kan berapa angka nol-nya ?.

Uang kertas memang bersifat relatif dan identik dengan penguasa suatu negeri; maka apa jadinya kalau terjadi pergantian penguasa negeri tetapi penguasa yang baru belum punya ‘uang’ untuk mencetak uang yang baru ?; gampang, penggal saja kepala penguasa yang lama dalam gambar mata uangnya; maka sudah jadilah mata uang yang baru. Gambar paling bawah adalah mata uang baru versi Zaire (Sekarang Democratic Republic of the Congo), ketika pemerintahan baru menggantikan pemerintahan lama tahun 1997.

Well, mungkin Anda berpendapat bahwa hal-hal tersebut diatas tidak akan terjadi dengan uang kertas kita zaman ini ? jangan terlalu yakin dahulu. Banyak hal yang tidak kalah lucunya yang terjadi dengan uang kertas zaman ini – hanya kita mungkin akan telat untuk tertawa. Berikut diantara fakta-faktanya :

·
Uang Rupiah pernah secara revolusioner dibuang tiga angka nol-nya tahun 1965/1966; tetapi kemudian tiga angka nol yang dibuang tersebut telah balik kembali ke uang kita hanya dalam tempo tiga puluh dua tahun kemudian. Bahkan tiga angka nol ini berganti menjadi empat atau bahkan lima. Buktinya ?, di dompet kita lebih banyak uang yang ber-angka nol 4 atau 5, karena yang nol 3 sudah pindah ke kencleng-kencleng donasi.

· Dengan bahan yang sama, dengan karya creative yang tidak kalah indah-nya – uang kita hanya dinilai 1/10,000 dari uang negeri lain, negeri Paman Sam.

· Uang kertas yang paling banyak dipakai di dunia saat ini adalah justru uang dari negeri yang paling banyak hutangnya.

· Uang kertas dari salah satu negeri adhi kuasa telah menjadi candu bagi negara-negara lain yang menggunakannya; ketika negara-negara lain yang pinter dan sadar akan bahaya candu ini-pun mereka tidak mudah untuk menghentikan kecanduannya. Lihat tulisan saya tentang BRIC untuk ini.

Bayangkan kalau di Amerika tahun 1777 ada yang berpikir kedepan bahwa uang primitif mereka tidak akan survive; bayangkan kalau di Hungaria tahun 1946 ada yang mengingatkan kekonyolan pemerintahnya ketika mencetak uang kertas dengan nominal Seratus Juta Milyar Pengo yang daya belinya hanya 20 cent Dollar. Bayangkan pula kalau di negeri ini ada yang mengingatkan pemerintahan kita tahun 1965/1966 bahwa solusi sanering hanya efektif untuk sementara waktu.

Inilah yang coba kita sampaikan dan ingatkan, bukan karena kita tahu apa yang akan terjadi – karena hanya Allahlah pemilik ilmu masa depan itu – tetapi karena kehancuran uang kertas sudah terjadi berulang-ulang dalam sejarah, tidak ada yang menghalanginya untuk terulang kembali. Wa Allahu A’lam. [geraidinar.com]

Batuk Pilek tak Diobati bisa Sebabkan Radang Telinga


TELINGA merupakan organ tubuh yang memiliki peran penting dalam kehidupan yakni sebagai indera pendengaran. Hanya saja, meski penting terkadang organ tubuh yang satu ini kurang mendapatkan porsi perhatian yang cukup.
Kalaupun diberikan perhatian, paling-paling hanya dalam bentuk pembersihan dari kotoran. Sebut saja pembersihan dengan cotton bud atau ear candling yakni mengeluarkan kotoran menggunakan aromatherapi.
Bicara soal penjagaan kesehatan telinga, sebenarnya tak bisa hanya dilakukan lewat pembersihan saja. Sebab, dalam beberapa kondisi, gangguan kesehatan telinga bisa mengakibatkan komplikasi organ tubuh lainnya.
Radang telinga atau otitis media merupakan satu bentuk gangguan kesehatan telinga yang patut mendapat perhatian serius. Itu karena, tak hanya akan menyebabkan tuli, jika peradangan mencapai tahap kronis, bisa menimbulkan aneka komplikasi yang mematikan.
Secara medis, otitis media merupakan peradangan telinga bagian tengah yang biasanya disebabkan penjalaran infeksi dari tenggorokan (faringitis). Dalam kondisi normal, telinga tengah seharusnya steril.
Sebab, di dalam tuba eustachius (saluran yang menghubungkan telinga tengah dengan rongga hidung belakang dan tenggorokan bagian atas) ada mekanisme pertahanan untuk mencegah masuknya bakteri dari rongga mulut ke rongga telinga.
Namun, dalam kondisi tertentu, ketika pertahanan terganggu, infeksi di telinga tengah bisa terjadi. Kuman masuk ke telinga tengah dari tenggorokan atau hidung seolah tanpa perlawanan. Kuman inilah yang menimbulkan otitis media.
"Radang telinga kebanyakan disebabkan batuk pilek yang tak mendapatkan penanganan dengan baik. Misalnya tak diobati atau diobati tapi tak sampai tuntas,"ungkap dr Asih SpTHT, dokter spesialis telinga hidung dan tenggorokan RS Awal Bros Batam.(*)

Gejalanya Nyeri dan Terasa Panas
JIKA dilihat dari proses munculnya penyakit, otitis media sebenarnya bisa dibedakan menjadi dua jenis yakni otitis media akut serta otitis media kronis. Disebut otitis media akut karena terjadi secara mendadak.
Namun, bila otitis media akut tersebut tidak segera ditangani atau diobati bisa berkembang dan menjadi lebih parah sehingga berubah menjadi otitis media kronis. Dan jika hal itu terjadi, penderita berpotensi mengalami gangguan pendengaran alias tuli saraf atau bahkan mengalami komplikasi organ tubuh lainnya.
"Otitis media akut sebenarnya juga bisa mengakibatkan tuli pada pendengaran. Hanya saja, tuli yang terjadi belum permanen atau bisa pulih kembali setelah diobati. Berbeda dengan tuli pada otitis media kronis. Karena kebanyakan gendang telinga sudah robek, tuli terjadi secara permanen,"ungkap dr Asih SpTHT.
Sementara, komplikasi yang biasa terjadi pada penderita otitis media kronis antara lain, meningitis atau radang selaput otak, kerusakan saraf wajah yang berujung pada perubahan bentuk wajah, gangguan keseimbangan, dan sebagainya.
Mengenai gejala yang biasa menyertai munculnya otitis media akut, dr Asih menjelaskan bahwa rasa nyeri dan panas pada telinga bisa menjadi tanda terjadinya peradangan pada telinga.
Selanjutnya, pembengkakan jaringan yang terjadi di sekitar saluran Eustachius akan menyebabkan lendir yang dihasilkan sel-sel di telinga tengah terkumpul di belakang gendang telinga.
Jika lendir dan nanah bertambah banyak, pendengaran akan terganggu karena gendang telinga dan tulang-tulang kecil penghubung gendang telinga dengan organ pendengaran di telinga dalam tidak dapat bergerak bebas.
Jika tekanan yang terjadi terlalu kuat, maka bisa merobek gendang telinga dan mengakibatkan gangguan pendengaran atau tuli yang sifatnya permanen. Robeknya gendang telinga tersebut bisa ditandai dengan keluarnya cairan nanah dari telinga atau biasa disebut congek.
"Berbeda dengan otitis media akut yang menimbulkan rasa nyeri dan panas, penderita otitis media kronis justru tak merasakan sakit. Itu karena gendang telinga yang awalnya tertekan cairan sudah robek,"ungkapnya. (*)

Segera Obati jika Batuk Pilek
MENGINGAT akibat yang bisa dimunculkan otitis media khususnya kronis tak bisa dianggap sepele, setiap orang pastinya patut waspada terhadap penyakit yang satu ini. Khususnya dari sisi pencegahan agar tak sampai berujung pada hilangnya fungsi indera pendengaran atau bahkan munculnya komplikasi organ lain.
"Karena penyakit batuk dan pilek memiliki andil terjadinya radang telinga, setiap orang hendaknya tidak menyepelekan penyakit tersebut. Segera obati dan jangan biarkan kuman yang berasal dari batuk pilek menyebar ke telinga bagian dalam,"ungkap dr Asih SpTHT.
Artinya, jangan sampai hanya gara-gara ketidaktahuan ataupun ketidakpedulian terhadap penyakit yang kerap dianggap ringan tersebut akhirnya berimbas buruk terhadap organ lain khususnya indera pendengaran.
Selanjutnya, bagi yang sudah terlanjur mengalami radang telinga baik yang sifatnya akut ataupun kronis, pengobatan secara medis pastinya menjadi solusi yang harus dijalani.
"Pemberian antibiotik bisa menjadi satu terapi medis untuk menyembuhkan radang telinga. Dan untuk radang telinga kronis terlebih dulu harus dicuci sampai bersih sebelum akhirnya diberikan antibiotik,"jelas dr Asih.
Namun, bagi yang memiliki daya tahan tubuh cukup baik dan daya serang kumannya rendah, penyakit ini dengan sendirinya akan sembuh. Gendang telinga bisa tetap utuh dan fungsi pendengaran kembali normal. Dengan penanganan yang tepat dan tuntas pun penyakit ini bisa sembuh. (*)

Anak Lebih Rentan Terserang Otitis Media
MESKI radang telinga bisa menimpa siapa saja tanpa pandang bulu, baik orang dewasa maupun anak-anak, tapi anak-anak diyakini lebih rentan terkena peradangan pada telinga.
Hal itu karena, sistem kekebalan tubuh anak masih dalam tahap perkembangan. Selain itu, saluran Eustachius pada anak lebih lurus secara horizontal dan lebih pendek, sehingga ISPA lebih mudah menyebar ke telinga tengah.
Faktor lain yang membuat anak lebih mudah terkena radang telinga adalah kondisi adenoid yakni satu organ di tenggorokan bagian atas yang berperan dalam kekebalan tubuh) yang relatif lebih besar dibandingkan orang dewasa.
Posisi adenoid yang berdekatan muara saluran Eustachius juga dapat mengganggu terbukanya saluran Eustachius. Selain itu adenoid sendiri dapat terinfeksi yang berpotensi menyebar ke telinga tengah lewat saluran Eustachius.
Jika dialami anak-anak, otitis media pastinya akan memunculkan dampak yang cukup besar bagi perkembangan mereka. Baik dalam hal kemampuan belajar maupun kemampuan bicara yang membutuhkan dukungan indera pendengaran.
Pada anak-anak, gejala yang menyertai bisa dilihat dari munculnya rasa nyeri pada telinga, demam tinggi, tampak gelisah, sulit tidur atau terkadang menjerit waktu tidur. Namun demikian, gangguan pendengaran kadang baru diketahui lewat perilaku anak. Sebut saja, tak menoleh atau menyahut saat dipanggil atau diajak bicara. (*)

Sumber:http://neisha-diva.blogspot.com

Pengikut

Arrahmah.Com